brand have 2 logo

Bisa banget! Jawaban singkatnya: BISA. Tapi, tunggu dulu… jangan langsung menggebu-gebu untuk minta tim desainer kamu buat bikin dua logo yang beda 180 derajat tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Sebagai agensi yang sering ngobrol sama pemilik bisnis, tim Rajava Media paling sering dapet pertanyaan curhat kaya gini:

“Min, brand aku kan punya produk yang beda banget karakternya. Boleh gak sih pakenya dua logo berbeda?”

“Min, mau ikutan tren kekinian di TikTok tapi logo utama terlanjur kaku banget. Bikin logo versi santai boleh gak ya?”

Jawabannya memang boleh, tapi ada aturan mainnya. Kalau asal bikin, jangankan bikin brand kamu makin keren, yang ada malah bikin calon pembeli bingung setengah mati dan hilang kepercayaannya gara-gara visual kamu yang mencla-mencle.

Biar gak salah kaprah dan modal pemasaran kamu gak boncos, yuk kita bedah tuntas aturannya, bentuk-bentuk variasi logo, kapan boleh dilakukan, dan apa saja syarat wajibnya!

Maksud “Dua Logo” Itu Gimana Dulu, Nih?

Sebelum masuk ke syarat teknis, kita wajib samakan persepsi dulu. Dalam dunia branding, konsep “punya dua logo” itu biasanya terbagi jadi dua skenario utama:

1. Logo System (Variasi / Sekunder Logo Utama)

Ini bukan berarti kamu bikin dua merek yang beda total, melainkan satu merek yang punya sistem logo fleksibel.

  • Primary Logo: Logo lengkap yang punya elemen teks nama brand dan ikon visual secara utuh.

  • Secondary Logo / Sub-mark: Versi yang dipangkas atau disederhanakan, biasanya cuma berupa inisial, simbol, atau susunan teks yang lebih ringkas.

Contoh gampangnya: Logo Nike lengkap dengan tulisan merek plus simbol swoosh, dan versi yang cuma menampilkan swoosh (centang) saja. Keduanya merupakan logo resmi Nike, tapi penempatannya disesuaikan dengan media.

2. Dual-Branding atau Sub-Brand (Anak Merek)

Kondisi di mana satu perusahaan induk menaungi dua brand berbeda yang berdiri sendiri-sendiri karena jualan ke target pasar atau kategori yang bertolak belakang.

Contoh gampangnya: Indomie dan Pop Mie. Dua-duanya lahir dari Indofood, tapi punya bentuk logo, warna, karakter visual, dan vibe yang beda total karena fungsi serta momen konsumsinya berbeda.

Kapan Brand Kamu Boleh Punya 2 Logo? (Syarat & Ketentuannya)

Kalau kamu mau mengoperasikan dua logo dalam strategi visual bisnis kamu, pastikan situasi bisnis kamu masuk ke dalam syarat-syarat logis berikut:

1. Kebutuhan Adaptasi Media Digital (Format Layout)

Di era digital, logo kamu gak cuma ditempel di baliho pinggir jalan atau kop surat kertas F4. Logo kamu harus muat di foto profil Instagram (yang bentuknya lingkaran mungil), favicon tab browser website, watermark video Reels/TikTok, sampai ke kemasan produk (packaging) yang ukurannya mini.

  • Syarat Wajib: Logo sekunder harus tetap mempertahankan DNA utama dari logo primer. Entah itu elemen warnanya sama, jenis font-nya seirama, atau bentuk khas ikonnya tetap konsisten. Jangan sampai pas logo sekunder dipasang, audiens malah gak mengenali kalau itu adalah produk dari merek kamu.

2. Memiliki Sub-Brand atau Lini Produk Khusus

Katakanlah kamu punya usaha coffee shop yang rame banget bernama Kopi Asik. Suatu hari, kamu mau ekspansi buka bisnis sangrai biji kopi (roastery) buat disuplai ke kafe-kafe lain dengan sistem B2B (Business to Business).

  • Syarat Wajib: Kamu boleh banget bikin logo terpisah buat Kopi Asik Roastery yang beda dari Kopi Asik Cafe. Namun, sangat disarankan menambahkan strategi endorsed brand (misalnya ada tulisan kecil “by Kopi Asik” di bagian bawah logo baru). Tujuannya simpel: biar reputasi dan kepercayaan yang udah terbangun di merek utama bisa menular ke bisnis baru kamu.

3. Perbedaan Target Audiens dan Karakternya Bertolak Belakang

Misalkan kamu jualan produk skincare. Brand utama kamu menyasar wanita karier usia 30–40 tahun dengan gaya visual yang elegan, mewah, dan terkesan mahal. Lalu, kamu mau meluncurkan lini produk pembersih jerawat buat remaja SMP/SMA (Gen-Z).

  • Syarat Wajib: Memaksa gaya visual high-end yang kaku ke anak remaja jelas gak bakal masuk ke selera mereka. Di kondisi ini, membuat logo kedua dengan pendekatan visual yang lebih playful, cerah, dan santai adalah langkah bisnis yang tepat.

Warning! Jangan Lakukan Ini Kalau Gak Mau Brand Berantakan

Punya dua logo memang memberikan fleksibilitas, tapi resikonya juga gede kalau dijalankan asal-asalan tanpa panduan:

  • ❌ Asal Pakai Tanpa Brand Guideline: Hari Senin unggah konten pakai Logo A di Instagram, hari Selasa pakai Logo B di TikTok tanpa aturan yang jelas. Dampaknya? Audiens jadi bingung, merek kamu tidak terekam di ingatan mereka, dan bisnis terlihat tidak profesional.

  • ❌ Bikin Dua Logo Beda Total Tanpa Alasan Strategis: Kalau bisnis kamu masih perintis (pionir/skala kecil) dan belum punya brand awareness yang kuat di masyarakat, memecah perhatian ke dua bentuk logo yang beda jauh cuma bakal bikin anggaran marketing kamu boncos sia-sia.

Checklist: Apakah Brand Kamu Sudah Waktunya Bikin Logo Kedua?

Coba jawab beberapa pertanyaan ini buat nentuin langkah kamu berikutnya:

  1. Apakah logo utama kamu saat ini terlihat pecah, terlalu padat, atau tidak terbaca saat dijadikan foto profil media sosial atau ukuran kecil?

  2. Apakah kamu sedang meluncurkan lini produk baru dengan target pembeli yang beda jauh dari pembeli lama?

  3. Apakah kamu sudah punya dokumen panduan brand (brand guideline) resmi agar tim internal tidak salah memasang logo?

Jika mayoritas jawabannya adalah “YA”, maka kamu memang sudah saatnya mengembangkan sistem logo atau merancang sub-brand baru!

Jadi, Harus Gimana?

Memiliki dua logo itu sah-sah saja, selama tujuannya jelas untuk mendukung strategi komunikasi dan pertumbuhan bisnis kamu. Kalau tujuannya cuma biar fleksibel di berbagai ukuran media digital, kamu cukup membuat sistem variasi logo (Primary & Secondary Logo). Tapi kalau tujuannya mengekspansi pasar ke segmen konsumen baru, merancang sub-brand dengan identitas terpisah adalah keputusan yang cerdas.

Masih bingung menentukan apakah brand kamu sebenarnya butuh logo sekunder, rebranding total, atau cuma perlu merapikan dokumen brand guideline?

Daripada cuma menebak-nebak dan berisiko bikin calon pembeli kabur karena bingung melihat identitas visual kamu, yuk diskusi santai bareng tim strategist Rajava Media! Kami siap bantu bedah arah visual merek kamu agar tidak cuma terlihat estetik di mata, tapi juga efektif mendatangkan omzet.

Ingin Konsultasi & Menggunakan Jasa Digital Marketing?

Team Rajava Media Siap Membantu
Konsultasi GRATIS sekarang!